Tentang Kami Yang Minoritas

Standard
coversationsforabetterworld

coversationsforabetterworld

Menjadi minoritas itu memang menyebalkan, salah langkah alih-alih terkenal malah jadi bulan-bulanan. Maaf yah, jikalau kalimat pertama saja sudah jadi kalimat yang provokatif. Santai sajalah kalau berinteraksi sama saya, bahkan jika harus membaca tulisan-tulisan saya yang tidak pernah berimbang dan membosankan… toh blogger bukan penulis, tapi pencurhat yang hebat XD.

***

Sama seperti tahun 1997 lalu ketika ada kejadian warga keturunan etnis Tionghoa membacok gadis kecil hingga tewas –itu berita yang saya ingat hingga hari ini-. Kejadian ini menyulut terjadinya anarkisme warga, kerusuhan berkepanjang nan menggemaskan bergelora karena sudah berhasil menyolek sentimen kesukuan, bagian yang tentu saja sangat sensitif.
Ketika seorang pria yang kebetulan warga negara keturunan Tionghoa bermasalah dengan pribumi, maka reaksi masyarakat begitu mengharukan. Dengan cepat berita tersebar kemana-mana dan membuat Makassar menjadi suram, pengrusakan, penjarahan dan pembakaran terjadi di mana-mana.

Saat kejadian itu terjadi, saya tengah duduk di kelas 1 SMA, di mana bersekolahlah saya di sebuah sekolah yang di bawahi oleh Yayasan Paulus Keuskupan Agung; Sekolah Menengah Atas Khatolik –Catat! Saya muslim dengan kadar keradikalan (banyak yang bilang begitu, lagi ngetren… lumayan bisa eksis!) yang cukup tinggi-.
Dengan demikian tingkat populasi siswa terbanyak di sekolah saya adalah mereka teman-teman saya, warga keturunan etnis Tionghoa. Hal ini membuat teman-teman saya begitu khawatir. Deringan HP terus menerus berbunyi tak henti-henti. Nada frustasi dan khawatir menyelimuti kami hari itu.

Saya berada di antara mereka, berada di tengah berisiknya nada handphone mereka yang mewah sedang saya gak punya (padahal kepengenan juga). Berada di tengah kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa membuat kami benar-benar merasakan kekhawatiran dan kepanikan dalam suasana yang begitu mencekam, terlebih ketika massa mulai merangsek ke depan sekolah lalu berteriak-teriak mengatai kami anjing dan babi sambil membawa balok, golok dan apa saja yang mereka anggap penting untuk menambah daya jual mereka sebagai kelompok yang banyak hingga membuat keringat dingin kami tidak berhenti mengalir.

Betapa ketakutannya kami pada saat itu, sementara di belahan lain kota ini, dari kabar-kabar yang terus tersampaikan lewat handphone dan pesan-pesan singkat yang tak kunjung berhenti toko dan rumah-rumah teman-teman saya sudah mulai habis terbakar, dibakar oleh massa.

Lalu sekarang, kengerian itu kembali saya rasakan, saya bergidik ketika membayangkan bagaimana saudara-saudara saya yang ada di Tolikara, yang kemudian tiba-tiba ramai dibicarakan orang karena adanya pembakaran mushollah saat shalat Ied kemarin dan terjebak dalam situasi yang bisa saya pastikan mirip dengan yang saya alami beberapa tahun yang lalu.

Begini, saya selalu ingin jujur dalam setiap tulisan saya, maka sama ketika saat ini. Jujur, saya benar-benar buta akan Tolikara. Tidak tahu sedikitpun tentang tempat itu jika tidak karena kejadian ini, dan semakin bego ketika membaca berita-berita yang terus bergulir dari beberapa orang pintar dengan gaya bahasa bermajas mereka yang luar biasa; ironi, sinisme, sarkasme, pleonasme, repetisi, paralelisme, tautologi, klimaks, antiklimaks, retorik dan teman-temannya lagi yang membuat saya bengong dan tak habis pikir.
Yang saya tahu, bahwa tanah Papua adalah memang daerah yang rawan konflik dan amat sangat tidak mungkin dapat disamakan dengan dengan kota besar macam tempat bapak mas-mas itu makan dan tidur dengan santai tanpa mencicipi teror yang sempat saya rasakan.

Mohon maaf, dengan otak yang pas-pasan dan hina ini saya memang terlalu jahil untuk membuang-buang waktu membuat curhatan ini, merasa seperti seorang ahli, pemikir keras yang mengorbankan waktu dan pikirannya untuk membahas peliknya problematika dan dinamika kehidupan.

Saya memang tidak memiliki kecerdasan yang baik untuk dapat menjadi bijak seperti teman-teman yang lain, yang begitu pintar serta luar biasa berbicara dalam konteks hak asasi manusia dan hukum yang bekerja dalam masalah ini dengan mengandalkan janji-janji manis dengan label “akan diusut tuntas”. Sudahlah, tak ada yang dapat tuntas dengan sebuah janji… sebab janji adalah utang dan kebanyakan utang sering dilupakan.

Baiknya kita, eh sayalah kalo gak mau kita… banyak-banyak berdoa.
Cuman mau bilang, “Kamu sehat…?!”

Taqabbalallahu Minna wa Minkum

____

cuman mau bilang : cuma mau nanya

Advertisements

5 responses »

  1. Hal seperti itu bisa diminimalisir dengan pembauran, sosialisasi, bergaul bersama dan saling peduli. Pelan tapi pasti akan mulai tumbuh saling mengerti. kalau tidak sekarang ya mungkin generasi mendaatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s