Bosowa Semen Dari Makassar Untuk Indonesia

Standard

“Terbanglah yang tinggi, tanpa khawatir saat mendarat karena ada landasan aman yang menanti… Teruslah berjalan jauh, jangan ragu sampai tujuan karena jalanan nyaman panjang terbentang… Ciptakanlah karya-karya besar, berani maju mengambil resiko karena kekuatan besar senantiasa menopang… Dan ketika pulang, peluk hangat keluarga tercinta, tidak usah takut, ketulusan akan selalu melindunginya. Bosowa Semen puluhan tahun membangun negeri dipercaya untuk karya besar, dicintai oleh Indonesia” – Bosowa.

Makassar adalah sebuah kota metropolitan terbesar di Indonesia bagian timur, terletak di pesisir barat daya pulau Sulawesi, berbatasan dengan selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utaranya, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan yang merupakan ibukota dari provinsi Sulawesi Selatan. Dengan wilayah seluas 199,26km2 dan jumlah penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa, Makassar tergolong kota tipe multietnik atau multikultur, ragam suku bangsa menetap di dalamnya; Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa dan Tionghoa.

Dinamika kehidupan kota besar dengan kearifan budaya lokal yang selalu dirindukan hadir dalam balutan Anging Mammiri di kota ini, kota penuh cinta dan kenangan yang akan selalu dirindu, tak hanya dikenal akan budaya, kuliner dan wisatanya tapi juga produk-produk unggulan buah karya putra daerah.

Hingga sebuah undangan dilayangkan dalam group Komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri akan Media Gathering & Plant Visit Pabrik Bosowa Semen, rasanya mengunjungi pabrik-an semen hanyalah mimpi – tinggal mimpi bagi saya. Tujuh tahun bekerja dalam bidang jasa konstruksi membuat rasa akrab akan semen begitu nyata, walau-pun sebagian besarnya hanya sebagai quantity yang harus saya catat dan hitung untuk membangun sebuah pondasi karya hingga dapat berdiri keras dan kuat. Sayangnya rasa itu harus saya tepis dan saya simpan rapat-rapat bersama kenangan *hallah!. Sebab di waktu dan tanggal yang sama ada laporan kerja yang harus saya tuntaskan. Sedih? Tentu saja, akhirnya saya hanya bisa pasrah mengikuti update peserta yang terus bertambah mencukupkan kuota peserta dalam daftar kunjungan tersebut, hingga pendaftaran pun ditutup tanpa nama saya di sana.

Namun pagi cerah dengan langit birunya menjanjikan kabar baik, saya bergegas dengan semangat yang menggebu menyusuri jalan-jalan di Makassar yang masih sepi dari kendaraan menuju titik kumpul di mana kami akan berangkat mengunjungi pabrik Bosowa Semen. Ya, akhirnya saya dapat ikut dalam rombongan Media Gathering & Plant Visit Bosowa Semen, setelah ada yang mengundurkan diri dari anjangkarya tersebut di mana saya pun berkesempatan menggantikannya, dan kemudian jadwal presentasi laporan kerja saya juga diundur hingga pekan berikutnya.

Horraay!… Ini bukan sebuah kebetulan tentunya, sebab saya yakin tidak ada kebetulan di dunia ini. Ya, ini kesempatan saya mengenal Bosowa Semen lebih intim.

Bosowa Corporation

Bosowa Corporation adalah perusahaan induk (holding company) yang memiliki berbagai bidang bisnis, mulai dari semen hingga dealer mobil. Perusahaan ini bermula dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan umum bernama CV Moneter di kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 22 Februari 1973 oleh Aksa Mahmud.

Pada tahun 1978 perusahaan itu mendapatkan hak eksklusif sebagai dealer resmi mobil produksi Jepang yakni Datsun untuk kawasan timur Indonesia. Pada tahun yang sama, nama perusahaan diganti menjadi PT Moneter Motor. Kemudian berganti nama menjadi PT Bosowa Berlian Motor yang menjadi tonggak penting mengawali kemajuan Bosowa Corporation. Nama Bosowa sendiri berasal dari singkatan nama tiga kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. – sumber: WIKIPEDIA [https://id.wikipedia.org/wiki/Bosowa_Corporation]

Inilah yang membuat saya sebegitu penasarannya ingin mengetahui apa yang ada di balik nama besar BOSOWA, hingga hampir di semua sudut kota Makassar tak ada yang tak mengenalnya. Juga selain menunaikan mimpi mengunjungi pabrik-pabrik besar dan menyalurkan tingkat ke-kepo-an emak-emak yang mungkin hanya dimengerti oleh sepoi angin, gemericik air dan yang tak mungkin akan terjawab hanya dengan tanya pada rumput yang bergoyang XD*diguyur semen.

Roda-roda mobil bergegas menjejak jalanan menanjak memasuki sebuah bangunan nan megah yang menjulang tinggi, saya mengenalnya sebagai Menara Bosowa dan cukup akrab dengan bagunan ini, sejak dua tahun terakhir berhasil menggelar beberapa event yang cukup besar di FR –Function Room, ruangan serbagunanya-, selain sebagai satu gedung yang menjadi bagian dari Bosowa Corporation itu sendiri tentunya. Wajah-wajah hangat saya temukan di lobinya menyambut dengan senyuman renyah, beberapa diantaranya nampak tidak asing.

Setelah menunggu setengah jam kami pun berangkat dari Menara Bosowa dengan bis pariwisata menuju pabrik Bosowa Semen line II di Maros, dua bis membawa rombongan kami pagi itu. Perjalanan ini memerlukan waktu lebih kurang dua jam berkendara, menyenangkan? Tentu saja! Apalagi dengan sambutan meriah dalam suguhan presentasi berkesan dari bapak Rachmat Kaimuddin selaku Managing Director Bosowa Semen beserta tim di Office & CCR (Centre Control Room) Bosowa Semen.

Bosowa Semen

Diskusi terus mengalir dan saya menyimak dengan seksama takut kehilangan sedikitpun apa yang tengah dibicarakan. Belum habis takjub akan pesona lingkungan pabrik yang saya dan rombongan lalui tadi hingga tiba di office & CCR Bosowa Semen, rasa takjub saya semakin menjadi mendengar tentang apa yang ada di dalam bangunan-bangunan besar pabrik yang didominasi oleh warna biru ini, apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka lakukan dengan karst-karst di luar sana, dan apa yang terjadi dengan perusahan besar ini.

Ya, usaha memang tak akan pernah menghianati hasil, Bosowa Semen sepertinya mampu menjadi kompetitor di pasarnya, ia bertahan. Berbeda dengan produsen semen lainnya yang telah diambil alih oleh pemerintah melalui BPPN lalu dijual ke perusahaan asing, ternyata pengembangan usaha Bosowa Semen terus berlanjut dan bertahan walau di tengah deraan krisis yang terjadi, yang kemudian kini menjadikannya sebagai produsen semen terbesar keempat, juga produsen semen swasta nasional terbesar di Indonesia dari segi kepemilikannya.

Saat ini Bosowa Semen memiliki tiga pabrik yaitu di Maros, Batam dan Banyuwangi dengan total kapasitas produksi 7,2 juta ton semen dengan pasar utama Indonesia bagian timur, yang kemudian meluas ke berbagai daerah di seluruh nusantara. Bosowa Semen juga melakukan peningkatan kinerja perusahaan dengan re-branding dari Semen Bosowa menjadi Bosowa Semen untuk menumbuhkan semangat baru dan terus memperluas jaringan distribusinya hingga ketersediannya akan pasar semakin handal.

Proyek-proyek landmark yang dibangun dengan Bosowa Semen juga tidak main-main, diantaranya: Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Lombok, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara Ngurah Rai Bali, Menara Bosowa Makassar, Tol Makassar, Ringroad Danau Sentani Jayapura, Universitas Batam dan sebagainya.

Pabrik Bosowa Semen Maros

Matahari mulai tinggi dan hari sangat cerah ketika kami bergegas akan melanjutkan Plant Visit di Pabrik Bosowa Semen Maros yang terletak di Desa Baruga kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini sekitar pukul 11.00 wita. Pabrik ini merupakan pabrik semen terintegrasi dan berada di lokasi tempat penambangan batu kapur yang merupakan bahan baku utama pembuatan semen yang juga memproduksi clinker sendiri dengan kapasitas 4 juta ton pertahun dan tentu saja semen itu sendiri dengan kapasitas produksi 4,2 juta ton per tahun.

Bosowa Semen melakukan penambangan bahan baku, produksi semen, hingga penyediaan logistik, jaringan distribusi, serta ready mix untuk memenuhi pasar di seluruh Indonesia tanpa mengindahkan lestarinya lingkungan sekitar dengan adanya konversi lahan produktif dan non produktif -alih fungsi; perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan; UU No.41 tahun 1999 pasal 19-, membangun green belt sebagai zonasi pemisah pabrik dengan lingkungan sekitar yang juga berfungsi sebagai jalur hijau, merangkul penduduk setempat untuk memenuhi lapangan kerja hingga memberi santunan untuk mereka yang membutuhkan; menggiatkan program CSR (Corporate Social Responsibility).

Dengan konsesi lahan sekitar 1100 hektar dan telah mengantongi izin penambangan selama 100 tahun -izin ini akan direview setiap 10 tahun sekali dan saat ini telah terpakai 10% lebih kurang dari masa penambangan- dalam masa operasi pabrik yang telah berjalan selama 20 tahun dengan konsesi lahan berjarak 4,5 km dari Karst yang dilindungi oleh pemerintah, juga memenuhi persyaratan berbagai sertifikasi manajemen mutu (ISO); SNI ISO 9001 – 2008; SNI ISO 14001 – 2004; ISO 17025.

Rasanya tak ada yang patut dikhawatirkan secara berlebih walau sebelumnya jujur saja, saya sempat suudzon –prasangka buruk- karena antara pabrik dan tambang akan banyak hal yang tidak dapat diterima begitu saja, ada banyak isu sensitif di sana. Maka dari sini mari sekali lagi kita belajar jangan ada “tak kenal maka tak sayang” di antara kita.

Rasa bangga itu mulai mengisi relung hati akan sebuah produk lokal yang berani bersaing begitu tangguhnya, ia mulai menaruh harapan besar membangun mimpi, dan akan terukir satu nama indah “Bosowa Semen” untuk satu lagi, sebuah istana sederhana yang kelak akan kami -saya dan suami- bangun.

Inilah sejatinya sebuah perusahaan besar, tidak hanya membesarkan dirinya sendiri, ia akan besar bersama kesejahteraan pekerjanya, memberi kebaikan untuk lingkungannya, merangkul semua pihak yang ada di sampingnya, memberikan karya nyata untuk bangsanya. Sekali lagi, tidak hanya dilihat dari seberapa keras ia terdengar dan dipuja, namun seberapa besar ia bermanfaat untuk orang banyak, juga untuk sepetak kebun buah naga yang lucu dalam lokasi pabrik!. 🙂

Inilah persembahan terbaik dari Makassar untuk bangsa, Bosowa Semen membangun Indonesia berdiri keras dan kuat!

Advertisements

6 responses »

  1. sampai saat ini saya masih penasaran tentang bagaimana pemilihan lokasi penambangannya karena kalau dilihat di lapangan, bentang pegunungan karst di maros sangat luas sekali. Tapi yang baru saya tahu dari Bosowa ternyata ini perusahaan swasta, saya pikir dulu termasuk BUMN bersama Tonasa. Walaupun swasta tidak bisa juga dipungkiri kalau Bosowa sudah termasuk dalam jajaran semen terbaik Indonesia dan masuk 5 besar produksi semen terbaik di Indonesia

  2. Kusukanyaaa pembukanyaaaa
    Seru ya kak unga palant visitnya meski panas2 membara wkt itu hueheheh
    Jd pengen terima lg undangan kalo masih ada nanti hihihiw
    Goodluck kak unga untuk artikelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s